Wayang Sadat, sarana dakwah dan tabligh

Wayang sadat adalah wayang yang digunakan untuk khusus dakwah ummat islam dengan menceritakan kisah para wali penyebar agama islam di Pulau Jawa. Wayang ini diciptakan oleh Bapak Suryadi Warnosuharjo, seorang guru matematika di SPG Muhammadiyah Klaten, Jawa Tengah.

Pagelaran wayang sadat dimulai dengan suara bedug ditalu kemudian uluk salam assalamu alaikum dilanjutkan dengan gesekan rebab dan gamelan sebagaimana pakeliran wayang purwa. Di samping itu juga diperdengarkan lagu-lagu qasidah dan ada satu gending yang dinamakan gending Istighfar.

Para niyaga mengenakan sorban berwarna putih serta beskap landung berwarna abu-abu. Untuk swarawatinya mengenakan kebaya serta mukharoh. Suasana ini mengingatkan kembali kepada suasana pagelaran penyebaran agama islam di zaman para wali di pulau Jawa sekitar jaman kerajaan Demak pada abad ke 15.

Bapak Suryadi menciptakan wayang sadat tersebut pada pertengahan tahun 1986 sebagai sarana dakwah pengembangan sejarah Islam oleh para wali. Di samping itu untuk melanjutkan roh islam yang pernah terdapat gubahan ajaran islam dalam pakeliran wayang purwa. Misalnya telah dijumpai lakon Jimat Kalimasada. Roh-roh tersebut tidak dijumpai pada pagelaran wayang beber, wayang madya maupun wayang gedog yang banyak menggelar kisah-kisah jaman Mamenang, Kediri, Singasari hingga Majapahit.

Kata sadat berasal dari kata syahadatain atau sebagai akronim dari sarana dakwah dan tabligh. Suryadi merasa beruntung hinggga setelah menampilkan pagelaran selama delapan kali ternyata tidak ada pihak yang menentang karya tersebut.

Dirangkum dari Pratiwimba Adhiluhung

World Puppet

Informasi seputar dunia pewayangan

Erawati, putri Mandaraka yang hilang

Dewi Erawati adalah putri sulung Prabu Salya, raja negara M

....

Brajadenta, putra Pringgondani yang mbalela

Brajadenta adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, adik Prabu Arimba da

....

JATAYU

Garuda Jatayu adalah putra resi Briswawa.

....

1118

Menurut Dr. Van Stein Callenfesl, kitab ini ditulis oleh Empu Panuluh pada tahun 1118 Masehi berupa lakon wayang yang berwujud tembang. Kitab ini menceritakan Abhimanyu menikah dengan Siti Sundaril.  Dalam kisah ini juga diceritakan bahwa Abhimanyu dikawal oleh para Punakawan.